Senin, 16 Agustus 2010

Prevensi terhadap Tingkah Laku Homosexual

Prevensi / Upaya-upaya yang dilakukan Terhadap Homosexual
 
            Kasih dan penerimaan tanpa syarat serta komunikasi dua arah adalah kata kunci yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam usahanya untuk mencegah terjadinya perilaku homoseksual pada anak-anak mereka. Dalam banyak kasus, kekecewaan yang dialami oleh orangtua ketika mendapati anak-anak mereka tidak sesuai dengan harapan mereka (baik dalam hal gender ataupun kecenderungan/karakteristik gendernya). Tanpa disadari, hal ini menyebabkan penolakan terhadap diri si anak.

            Orangtua perlu belajar untuk menerima setiap anak yang Tuhan percayakan apa adanya, lengkap dengan kelebihan dan kelemahannya. Orangtua dapat mengambil bagian dalam mendampingi anak-anak mereka untuk mengatasi kelemahan yang ada pada mereka.



Beberapa langkah praktis berikut dapat membantu orangtua dalam mengatasi kecenderungan homoseksual pada anak:
1.      Menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis, ayah dan ibu yang saling mengasihi dan masing-masing menjalankan fungsinya dalam keluarga.

2.      Tidak mengolok-olok kelemahan anak. Tapi justru memberi dukungan pada anak dengan perkataan yang membangun.

3.      Hindari pemberian “label” banci  kepada anak laki-laki atau tomboy kepada anak perempuan.

4.      Menjadi teman bicara yang baik untuk anak-anak. Sebagian besar pelaku homoseksual pernah melewati suatu masa kesepian di mana mereka ingin mengungkapkan pergumulan mereka kepada seseorang yang dapat mereka percayai, tapi mereka tidak menemukannya.

5.      Para ayah perlu terlibat langsung dalam membina hubungan dengan anak-anaknya. Menjadi figur teladan seorang pria bagi anak laki-laki dan memiliki kepekaan untuk berinteraksi dengan anak perempuannya. Para ibu perlu menyadari bahwa anak-anak laki-laki harus melepaskan diri dari keserupaan dan kedekatan dengan ibunya, untuk bertumbuh menjadi seperti ayahnya. Pergeseran ini tidak dialami oleh anak-anak wanita.

6.      Orangtua perlu untuk terus menerus membina komunikasi dengan anak-anak mereka pada setiap tahap kehidupannya.

7.      Ajarkan pada anak-anak sejak usia dini bahwa tubuh mereka adalah bait Roh Kudus  dan seharusnya diperlakukan secara terhormat. Ajari mereka untuk melindungi diri dari pelecehan seksual dan berbicara terbuka tentang perlakuan yang mereka anggap aneh atau tidak wajar dari seseorang.

8.      Berhati-hati dalam mempercayakan anak-anak pada pengawasan orang lain. Beberapa kasus pelecehan seksual dilakukan oleh “orang dekat” atau orang “kepercayaan”, bahkan di dalam lingkungan yang dianggap cukup rohani.


"Di tengah-tengah pergeseran nilai-nilai dunia ini, kami percaya Tuhan mengaruniakan keluarga sebagai perahu penyelamat bagi generasi selanjutnya. Adalah tugas kita bersama untuk mengokohkan sendi-sendi keluarga dan menjadikannya tempat pertumbuhan yang memberikan kenyamanan bagi setiap individu yang tinggal di dalamnya." (** Daniel & Lydia Kurnia)

1 komentar:

  1. Cari2 kenalan gay / bisex indonesia. Yg tertarik bicara solusi, mungkin karna jarak jauh, bgmn biar bisa dekat! Tidak mengundang perkenalan basa-basi yg cuma smsn tidak jelas. Realita, saat kita mengenal seseorang, saat kita sudah simpatik, tentu kita berharap bisa berjumpa segera. Nah kalo anda punya niat, tentu anda akan tertarik bicara jalan keluarnya, bagaimana supaya kita bs dekat! Tidak semua yg terbaik itu ada disekeliling kita. Malah kdg orang yg mau mengerti kita mungkin ada diluar sana! Tidak ada yg instan. Walaupun ada, instan itu cuma bersifat sementara. Saat anda benar2 menginginkan suatu hubungan yg baik & benar, saat anda sudah bosan dg hubungan anda yg gagal, pasti akan berpikir 1000x jangan sampai terulang!
    Jujur saya tidak pernah suka yg muda. Kebanyakan lebay & manja. Saya suka sosok yg dewasa. Sama2 bisa berpikir akan planing positif kedepan. Salam tuk anda yg special, silahkan kontak ; 085664600785 atau BBM : 219ac6dc

    BalasHapus